Banten

Hancur Hati Sang Ibu Melihat Putrinya Pulang Menangis Histeris: Rambut Dipotong Guru Padahal Tertutup Jilbab

Abdurahman | 6 Mei 2026, 22:21 WIB
Hancur Hati Sang Ibu Melihat Putrinya Pulang Menangis Histeris: Rambut Dipotong Guru Padahal Tertutup Jilbab
TRAGIS, 17 siswi SMK di Garut menangis usai rambut mereka dipotong oleh guru BK karena dianggap melanggar aturan sekolah terkait warna rambut (doik Ist)

AKURAT BANTEN – Isak tangis seorang siswi SMKN pecah seketika saat ia menginjakkan kaki di rumahnya.

Bukan karena nilai ujian yang anjlok, melainkan sebuah trauma fisik dan mental yang ia dapatkan dari institusi yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk belajar.

Sang ibu hanya bisa terpaku dengan hati hancur melihat kondisi putrinya yang pulang dalam keadaan syok berat.

Rambut indah sang siswi kini compang-camping akibat dipotong paksa oleh oknum Guru Bimbingan Konseling (BK).

Ironisnya, tindakan ini dilakukan padahal sang siswi mengenakan jilbab rapat saat berada di sekolah.

Baca Juga: Saldo Rp24 Miliar vs Hutang Rp10 Miliar: Bedah Total Kekayaan Grace Natalie yang Kini Jadi Sorotan Bareskrim

Kronologi yang Mengiris Hati

Kejadian bermula saat razia kedisiplinan digelar secara mendadak. Alih-alih melakukan pemeriksaan yang edukatif, oknum guru tersebut justru mengambil tindakan ekstrem.

Tanpa mempertimbangkan bahwa rambut sang siswi tertutup oleh hijab, sang guru tetap nekat melakukan pemotongan rambut di tempat.

Tindakan ini tidak hanya merusak penampilan fisik sang siswi, tetapi juga melukai harga dirinya sebagai seorang remaja perempuan yang sudah berusaha menjaga auratnya.

Bagaimana mungkin seorang pendidik tega melakukan hal ini? Anak saya sudah tertutup jilbab, rambutnya tidak terlihat oleh siapapun. Memotongnya secara asal-asalan adalah bentuk penghinaan terhadap martabat anak saya, ungkap sang ibu dengan suara bergetar menahan amarah.

Baca Juga: MANTAP! BLT Dana Desa Mei 2026 Cair Rp900 Ribu! Ini Cara Cek Nama Penerima Pakai HP

Trauma Mendalam di Balik Helai Rambut

Bagi banyak pihak, rambut mungkin hanya bagian tubuh yang bisa tumbuh kembali.

Namun, bagi siswi ini, setiap helai yang jatuh di lantai sekolah hari itu adalah simbol hilangnya rasa aman.

Luka psikis yang dialami korban jauh lebih sulit disembuhkan dibandingkan sekadar menunggu rambut tumbuh panjang.

Kini, sang siswi dilaporkan enggan untuk kembali ke sekolah karena malu dan merasa tertekan secara mental.

Baca Juga: Ngeri! Roy Suryo Terancam Hukuman Belasan Tahun, Refly Harun Ungkap Fakta Persidangan yang Sebenarnya

Publik Bertanya: Di Mana Batas Kedisiplinan?

Kasus ini langsung memicu gelombang kritik dari masyarakat dan pemerhati pendidikan.

Banyak yang mempertanyakan standar operasional prosedur (SOP) razia rambut yang menyasar siswi berjilbab.

  • Pelanggaran Privasi: Mengapa rambut yang sudah tertutup jilbab harus dipaksa keluar untuk dipotong?

  • Cara yang Tidak Manusiawi: Tindakan memotong rambut di depan umum tanpa izin orang tua dianggap sebagai metode "pendidikan purba" yang sudah tidak relevan.

  • Tuntutan Sanksi: Pihak keluarga kini menuntut agar guru BK tersebut tidak hanya sekadar meminta maaf, tetapi dijatuhi hukuman disiplin yang setimpal.

Baca Juga: 'Tunjukkan Ijazah Anda!': Alumni UGM Seret Jokowi ke Meja Hijau PN Solo, Apa yang Disembunyikan?

Menanti Ketegasan Pihak Terkait

Kini bola panas berada di tangan pihak sekolah dan Dinas Pendidikan setempat.

Publik menunggu langkah nyata untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.

Pendidikan seharusnya memanusiakan manusia, bukan meninggalkan bekas luka yang membekas seumur hidup. (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman